RSS

Menjadi Orang "Penting"

aku sekarang sedang berada diposisi dimana aku berada pada masa terlalu banyak pilihan dan harus memikirkan orang banyak. saat ini aku diberi amanah oleh keluarga kecilku di kampus. aku harus bisa mengerti isi kepala banyak orang, memahami apa maksud dari mereka dan mengurangi ego serta perasaanku kepada seseorang. di sini aku bisa belajar banyak, belajar bagaimana meng"iya"kan yang sulit di"iya"kan dan belajar berkata "tidak" untuk membuat semuanya menjadi benar.

masa ini, aku berusaha tersenyum dan tanpa beban saat banyak "tugas negara" yang harus dipikirkan. dilihat orang menjadi "sok sibuk" udah menjadi tanggungan. tertawa dan bersenang-senang saat kumpul bersama hanya seperti keadaan dimana memang harus memang begitu yang aku perlihatkan. berpikiran mereka lebih lelah dari aku, jadi aku tak boleh mengeluh. tapi dibalik itu semua, banyak keadaan dan perasaan yang ditutupi. bukan menjadi diriku sendiri.

yang diinginkan dimasa ini, aku bisa membawa diriku menjadi seseorang yang bijaksana, profesional dan terkadang malah orang yang bijaksana tidak selamanya jujur. orang bijaksana seolah-olah harus menjadi orang yang netral akan sebuah masalah, bukan memihak kepada yang benar ataupun yang salah. dan aku, seharusnya menjadi orang yang "cukup tau" bukan yang "sok tau" ketika ada masalah dalam setiap kubu. menjadi orang yang cukup tau enggak semudah itu, dimana-mana hanya akan dipandang sebelah mata karena dianggap bermuka dua. atau bahkan dianggap orang yang tidak bisa dipercaya dimata orang. dimasa ini aku sudah harus bisa membedakan mana yang harus aku bicarakan depan umum dan mana yang tidak. mengerti perasaan orang tanpa orang itu memperlihatkannya secara jelas.

tapi, kenyataan enggak seperti yang diinginkan dalam pikiran. aku hanya bisa menjadi aku yang enggak bisa menyembunyikan perasaan malas, capek, kecewa dan malah bosan. aku dituntut untuk terbuka dan jujur, tapi tidak ada satupun yang menerima kata jujur dan terbuka dari kita. dituntut untuk menjadi diri sendiri, tapi dengan syarat harus bijaksana dan profesional. selalu mengatakan semangat, dan aku hanya berbisik dalam hati "semangati saja dirimu sendiri".

sifat burukku malah semakin tumbuh dikeadaan ini, suka balas dendam sama apa yang orang lakukan. aku hanya berpikir "kita harus impas", apa yang kamu berikan, itu yang akan kembalikan, ketika kamu baik, aku bisa lebih baik, dan ketika kamu jahat, aku juga bisa lebih jahat. ketika kamu memanfaatkan kelemahanku yang enggak tegaan dan manutan, maka aku akan membuatmu menjadi orang paling buruk dimataku dan enggak akan percaya sama setiap kata-katamu.

buat mengatasi ini semua, kuncinya cuma satu, jangan pakai perasaan, tapi pakai otak agar tidak berujung kecewa.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

seiring berjalannya waktu

Enggak kerasa ternyata sudah beberapa bulan berlalu, berat rasanya ngelewatin masa-masa itu. Yang awalnya seolah-olah seperti “enggak mungkin tanpamu” sekarang menjadi “aku harus bisa tanpamu” dan semoga enggak jadi “ngapain kamu?”

Entahlah, di awal perpisahan dulu aku lebih sering menyalahkan diriku sendiri yang enggak bisa nerima segala apapun yang dia lakukan, seolah-olah semua yang dia lakukan itu salah, dan aku menyesal atas perasaan itu, aku juga membiarkan orang-orang agar tau versi dari ceritanya dibandingkan mengetahui versi ceritaku. bahkan aku mencoba untuk memperbaiki semua tapi ternyata enggak ada yang bisa diperbaiki karena emang enggak ada yang harus diperbaiki.

kemudian perasaan bersalahku lama-lama berubah menjadi perasaan marah, marah karena aku menganggapnya orang paling jahat yang pernah aku kenal, orang yang paling tega mempermainkan perasaan orang dan menganggap “mudah” perasaanku ini, dia pikir perasaanku semudah itu untuk dia. Dan aku sempat berpikir enggak akan peduli dia mau kembali atau enggak, dan semua keyakinanku tentang “kemana pun kamu pergi, pasti akan kembali ke aku” pun sudah aku buang jauh-jauh.

Tetapi, saat ini perasaanku benar-benar berubah, aku udah enggak ngerasain yang namanya marah atau sedih ataupun ngerasa bersalah. Yang aku rasain sekarang aku harus berjuang. Berjuang tanpa dia dan mengembalikan perasaanku seperti awal dulu sebelum aku mengenalnya terlalu jauh. Perasaanku ini muncul bukan karena aku sudah memiliki perasaan ke orang lain, tapi ini muncul karena semua sikap nya yang dia tunjukin ke aku, sikapnya yang seolah-olah dia tidak butuh aku. Sekarang aku menjadi bersikap sama seperti dia yang seolah-olah tidak terjadi apa-apa, bahkan ketika bertemu seakan-akan semua baik-baik saja. Dia yang mengajarkanku untuk bersikap seperti ini.

Banyak sebenarnya alasan yang membuatku bersikap seperti ini, bisa karena aku mulai menganggapnya  tidak punya nyali, bisa karena aku sudah mati rasa, bisa karena aku sudah jatuh hati ke orang lain, atau karena aku enggak mau membebaninya dengan perasaan rapuhku lagi. Alasan terakhir yang paling berpengaruh dari perubahanku ini. Aku enggak mau dia terbebani gara-gara aku galau dan menunjukan semua ke hancuranku di sos-med, yang walaupun sebenarnya dia tidak mempedulikan apa yang aku rasakan, tapi sekarang posisiku sedang menempatkan perasaanku bila jadi dirinya, aku juga enggak akan kuat liat “sang mantan” masih sedih karena aku, makanya aku sedang berusaha kuat karena aku anggap dia juga lagi berusaha seperti itu.


Hal ini lah yang membuat perasaanku lebih kuat dan menuntunku menjadi lebih dewasa dalam berpikir dan bersikap. Sekarang aku hanya mau ber-possitive thinking tentang dia. Seperti menganggap status ke galauannya bukan buat aku, menanggapi chatnya dengan perasaan tenang tanpa ada rasa GR, dan bersikap “cool” atas semua yang dia lakukan. Semua ini agar dia tidak merasa terbebani, walaupun untuk saat ini aku enggak akan bisa dan akan terus menghindar kalau ada momen yang harus mempertemukan kita, aku cuma enggak mau usaha ku dan dia membangun dan menguatkan perasaan kita masing-masing menjadi gagal.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS