RSS

seiring berjalannya waktu

Enggak kerasa ternyata sudah beberapa bulan berlalu, berat rasanya ngelewatin masa-masa itu. Yang awalnya seolah-olah seperti “enggak mungkin tanpamu” sekarang menjadi “aku harus bisa tanpamu” dan semoga enggak jadi “ngapain kamu?”

Entahlah, di awal perpisahan dulu aku lebih sering menyalahkan diriku sendiri yang enggak bisa nerima segala apapun yang dia lakukan, seolah-olah semua yang dia lakukan itu salah, dan aku menyesal atas perasaan itu, aku juga membiarkan orang-orang agar tau versi dari ceritanya dibandingkan mengetahui versi ceritaku. bahkan aku mencoba untuk memperbaiki semua tapi ternyata enggak ada yang bisa diperbaiki karena emang enggak ada yang harus diperbaiki.

kemudian perasaan bersalahku lama-lama berubah menjadi perasaan marah, marah karena aku menganggapnya orang paling jahat yang pernah aku kenal, orang yang paling tega mempermainkan perasaan orang dan menganggap “mudah” perasaanku ini, dia pikir perasaanku semudah itu untuk dia. Dan aku sempat berpikir enggak akan peduli dia mau kembali atau enggak, dan semua keyakinanku tentang “kemana pun kamu pergi, pasti akan kembali ke aku” pun sudah aku buang jauh-jauh.

Tetapi, saat ini perasaanku benar-benar berubah, aku udah enggak ngerasain yang namanya marah atau sedih ataupun ngerasa bersalah. Yang aku rasain sekarang aku harus berjuang. Berjuang tanpa dia dan mengembalikan perasaanku seperti awal dulu sebelum aku mengenalnya terlalu jauh. Perasaanku ini muncul bukan karena aku sudah memiliki perasaan ke orang lain, tapi ini muncul karena semua sikap nya yang dia tunjukin ke aku, sikapnya yang seolah-olah dia tidak butuh aku. Sekarang aku menjadi bersikap sama seperti dia yang seolah-olah tidak terjadi apa-apa, bahkan ketika bertemu seakan-akan semua baik-baik saja. Dia yang mengajarkanku untuk bersikap seperti ini.

Banyak sebenarnya alasan yang membuatku bersikap seperti ini, bisa karena aku mulai menganggapnya  tidak punya nyali, bisa karena aku sudah mati rasa, bisa karena aku sudah jatuh hati ke orang lain, atau karena aku enggak mau membebaninya dengan perasaan rapuhku lagi. Alasan terakhir yang paling berpengaruh dari perubahanku ini. Aku enggak mau dia terbebani gara-gara aku galau dan menunjukan semua ke hancuranku di sos-med, yang walaupun sebenarnya dia tidak mempedulikan apa yang aku rasakan, tapi sekarang posisiku sedang menempatkan perasaanku bila jadi dirinya, aku juga enggak akan kuat liat “sang mantan” masih sedih karena aku, makanya aku sedang berusaha kuat karena aku anggap dia juga lagi berusaha seperti itu.


Hal ini lah yang membuat perasaanku lebih kuat dan menuntunku menjadi lebih dewasa dalam berpikir dan bersikap. Sekarang aku hanya mau ber-possitive thinking tentang dia. Seperti menganggap status ke galauannya bukan buat aku, menanggapi chatnya dengan perasaan tenang tanpa ada rasa GR, dan bersikap “cool” atas semua yang dia lakukan. Semua ini agar dia tidak merasa terbebani, walaupun untuk saat ini aku enggak akan bisa dan akan terus menghindar kalau ada momen yang harus mempertemukan kita, aku cuma enggak mau usaha ku dan dia membangun dan menguatkan perasaan kita masing-masing menjadi gagal.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS